Popular Posts

Popular Posts

Monday, March 23, 2015

Masyarakat Ekonomi ASEAN - Siapkah Indonesia Menghadapi MEA 2015?

| No comment






Pendahuluan
Association of Southeast Asian Nations atau yang lebih dikenal dengan ASEAN merupakan sebuah organisasi yang menghimpun negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Organisasi ini terbentuk pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok berdasarkan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Organisasi ini dibentuk atas dasar keinginan meningkatkan pembangunan ekonomi, sosial, budaya, politik maupun kemanan dengan dilatarbelakangi oleh kesamaan nasib sebagai negara-negara yang pernah dijajah.  Belakangan ini, ASEAN telah menunjukkan perkembangannya di dunia internasional, salah satunya adalah perencanaan perdagangan bebas antarnegara anggota-anggota ASEAN atau yang lebih dikenal dengan istilah AEC (ASEAN Economic Community).
            AEC dalam ASEAN bukan lagi hal yang baru, terutama bagi Indonesia. Sosialisasi melalui forum-forum diskusi yang membahas pentingnya AEC telah dilakukan pada berbagai lembaga dan didukung oleh media sebagai sarana publikasi kepada masyarakat. Namun, tidak banyak dari masyarakat Indonesia yang menolak kehadiran AEC karena berbagai alasan. Pertanyaannya adalah apakah AEC merupakan sebuah pilihan atau sebuah kenyataan yang harus dihadapi?

            Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
Tahun 2015 ini, masyarakat ASEAN akan dihadapkan pada kondisi pasar bebas ketika baik masyarakat dalam negeri maupun luar negeri akan bersaing secara kompetitif dalam hal perdagangan tanpa melihat batas-batas negara maupun pesaingnya. Setiap negara atau bahkan setiap orang akan berlomba-lomba memperkaya diri mereka dengan kekuatan yang dimilikinya seperti peningkatan ekspor maupun perluasan perusahaan. Dengan begitu, AEC benar-benar memberikan spirit bagi masyarakat ASEAN untuk meningkatkan taraf kehidupannya dengan cara perbaikan kondisi perekonomian. Namun, permasalahan yang muncul adalah apakah Indonesia sudah memiliki persiapan yang matang untuk menjadi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang berkualitas—baik bagi Indonesia sendiri maupun bagi negara-negara anggota ASEAN?
Mari kita tengok potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang terluas di dunia dan dilengkapi dengan kondisi alam yang memadai. Di lihat dari sisi geografis, Indonesia diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia dan diapit pula oleh dua samudera, yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik yang merupakan posisi strategis untuk melakukan hubungan perdagangan dengan negara-negara lain. Selain itu, Indonesia juga kaya akan sumber daya alam, baik hasil dari darat maupun dari laut. Beberapa tanaman hasil pertanian maupun perkebunan dapat tumbuh dengan baik di tanah Indonesia dan didukung dengan kekayaan biota lautnya yang sering dimanfaatkan sebagai indsutri makanan. Berdasarkan uraian tersebut, bila dilihat dari kondisi alam yang dimilikinya maka Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara yang kaya.
Namun, yang menjadi indikator dari kemajuan suatu negara tidak hanya dilihat dari kekayaan alam yang dimilikinya. Salah satunya adalah Indonesia sendiri. Walau kaya akan sumber daya alam, namun sumber daya manusia atau kualitas masyarakatnya secara umum masih tergolong lemah. Selain itu, infrastruktur, teknologi, dan sarana transportasi yang dimiliki Indonesia juga belum sepenuhnya memadai.
Pada daerah-daerah pelosok, dapat ditemukan sejumlah masyarakat yang masih konservatif dan menolak kehadiran perkembangan informasi dan teknologi. Belum lagi masalah ketenagakerjaan di Indonesia. Data BPS menyebutkan bahwa tenaga kerja Indonesia lebih banyak didominasi oleh mereka yang berlatar belakang pendidikan belum tamat SD atau SD dan SMP yang menyentuh hingga angka 77,8 Juta orang sedangkan menurut ADB dan ILO, tenaga kerja Indonesia paling banyak yang memiliki skill di bawah kualifikasi standar yaitu sebesar 63 persen[1]. Apabila mutu tenaga kerja yang dimiliki oleh sejumlah perusahaan di Indonesia masih rendah, maka tentu akan berdampak pada hasil perusahaan tempatnya bekerja sehingga perusahaan tersebut akan kalah dalam bersaing di pasar bebas. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia masih tergolong lemah.
Rendahnya kualitas sumber daya manusia tentu berdampak pada perkembangan industri maupun teknologi karena manusialah yang mengendalikan semua itu. Menyikapi hal ini, pemerintah Indonesia perlu melakukan pembenahan sesegera mungkin. Salah satu faktor yang memicu rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia adalah pendidikan yang sulit dijangkau oleh masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lemah. Lembaga pendidikan yang seharusnya menaungi, mendidik, dan mencerdaskan masyarakat tanpa melihat strata sosial terkadang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang kaya. Pemerintah seharusnya melihat hal ini sebagai sebuah ancaman bagi kehidupan bangsa dan pemerintah sudah sepatutnya berupaya keras untuk mengatasi kemiskinan yang masih merajalela di Indonesia. Apalagi AEC 2015 yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN sudah di depan mata, masyarakat Indonesia sudah seharusnya memiliki kesiapan yang matang untuk bersaing di dunia internasional.
Kesimpulan
MEA 2015 bukanlah sebuah pilihan yang harus diterima atau ditolak keberadaannya. MEA adalah produk dari globalisasi dan kita tidak dapat menerima atau menolaknya, namun ia adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi. Tidak ada manusia yang benar-benar dapat menolak produk globalisasi mengingat kebutuhan manusia setiap saat semakin bertambah. Kalau pun Indonesia ingin menolak MEA lantaran belum siap, maka sampai kapan Indonesia akan menutup diri? Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, Indonesia harus memperkuat kekuatan yang dimilikinya. Sebagaimana manusia, negara pun tidak dapat hidup sendiri. Ia pasti membutuhkan negara lain untuk bekerja sama dalam menaikkan taraf kehidupannya. Setiap negara juga pasti ingin terlihat sukses di mata negara lain dan oleh karena itu, mereka harus memiliki kekuatan nasional yang besar dan tangguh agar dapat bersaing secara kompetitif di kalangan internasional. Hal ini tentu merupakan tantangan yang besar bagi Indonesia. Memang bukan hal yang mudah untuk dijalani, namun apabila komunikasi dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat terjalin dengan baik, maka menjadi masyarakat ekonomi ASEAN yang bermutu dapat terwujud bagi Indonesia.




[1] http://bisnis.liputan6.com/read/2187314/phk-bakal-marak-buruh-minta-jokowi-batalkan-ikut-mea-2015
Tags :

No comments:

Post a Comment