Popular Posts

Popular Posts

Monday, January 26, 2015

Kesalahan Berfikir

| No comment

 Kesalahan dalam Berfikir


            Dalam buku Jalaluddin Rahmat yang berjudul “Rekayasa Sosial”  dijelaskan didalamnya ada beberapa hal kesalahan-kesalahan berfikir yang ada didalam bangsa Indonesia. Di dalam buku tersebut mengutarakan bahwa sebelum kita merubah bangsa ini mulai dari kondisi pereekonomian, perpolitikan, dan penegakan hukumnya alangkah baiknya apabila kita terlebih dahulu memperbaiki cara-cara berfikir masyarakat kita sendiri. Penulis buku “Rekayasa Sosial” yang biasanya disingkat reksos itu menyadari betul bahwa apa yang telah ia tuliskan dalam bab kesalahan-kesalahan berfikir sudah sesuai dengan realitas dalam keadaan yang terjadi dalam masyarakat. Dikarenakan dalam mengambil kesimpulan kesalahan berfikir, Jalaluddin Rahmat menggunakan metode observasi dalam pengumpulan data-datanya.

.Selain didalam buku reksos, telah pula dijabarkan kesalahan-kesalahan berfikir sejak dahulu seperti dalam buku Madilog pada bab awal yang ditulis oleh Tan Malaka. Dalam bab awal yang berjudul “Logika Mistik” menjelaskan bahwa kepercayaan pada masa dahulu di negera Egypte atau yang sekarang  dikenal negara Mesir mayoritas masyarakatnya menyembah Dewa Rah atau Dewa Matahari akan tetapi kepercayaan itu dibantah oleh teori Hukum Evolusi oleh Charles Darwin dan dibantah dengan Hukum Tentang Ketetapannya jumlah kodrat didunia ini, yang digagas oleh seorang ahli kimia yang berasal dari Inggris (1818-1889), yang bernama Youle. Menurut kepercayaan masyarakat Mesir, apabila Dewa Rah menyebutkan sesuatu itu akan terjadi maka hanya dengan sekejap mata hal tersebut akan terjadi. Penyembahan masyarakat Mesir terhadap Dewa Rah atau Dewa matahari itu dianggap kesalahan berfikir karna menggaibkan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat berkuasa dimuka bumi karena matahari dapat terbenam atau dapat tersingkirkan.

Ada beberapa kesalahan-kesalahan berfikir yang ada didalam buku Rekayasa Sosial pada bab awal dalam buku Jalaluddin Rahmat, diantaranya :
1.         Mengambil kesimpulan dalam menilai sesuatu secara cepat. Seperti contoh, misalkan si A untuk pertama kalinya mengendarai sepeda motornya pada hari senin dengan kecepatan yang sangat tinggi dikarenakan terburu-buru menghadiri pertemuan. Kejadian itu disaksikan oleh si B, dan si B mengambil kesimpulan bahwa si A sering ugal-ugalan dalam berkendara dijalan raya.

2.         Pemikiran bahwa persamaan rejeki tiap orang. Misalkan seseorang melihat orang lain sukses dalam usaha menjual ayam, maka banyak orang lain mengikuti jejak usaha penjualan ayam itu dilokasi yang sama tempat penjual ayam yang sukses tadi. Berharap bahwa rejekinya seperti yang diperoleh si penjual ayam yang sukses tadi. Padahal rejeki belum tentu sama.

3.         Pemikiran yang mensakralkan sesuatu. Seperti contoh disuatu daerah ingin melakukan suatu kegiatan spiritual akan tetapi dibatalkan karena beberapa kendala dan pada saat yang bersamaan bencana alam melanda daerah tersebut. Masyarakat daerah tersebut pun berfikiran bahwa bencana alam terjadi diakibatkan kegiatan spiritual tadi dibatalkan. Padahal bencana alam dan kegiatan spiritual tersebut tidak ada hubungannya.

4.         Menggunakan suatu otoritas dalam berargumen walaupun otoritas tersebut sama sekali tidak relevan atau ambigu dalam perbincangan. Seperti ketika orang memakai acuan Al-Qur’an dalam berargumen namun lawan berbicara membantah argumentnya, maka  orang yang menggunakan landasan Al-Quran tadi menilai lawan bicaranya kafir karena telah membantahnya. Padahal belum tentu pula intrepretasi orang yang menggunakan Al-Quran tadi itu sudah betul dalam mengangkat suatu kisah ataupun ayat dalam kitab suci diperbincangannya.

5.         Pemikiran yang mengatakan bahwa sesuatu yang berdasarkan sejarah tidak dapat dihapus karena sudah ada sejak lampau. Seperti kondisi kemiskinan yang terjadi disuatu negara tidak dapat diberantas karena telah dahulu adanya. Padahal relevansi antara masa dahulu dan kondisi kekinian sebetulnya telah banyak berbeda. Anggapan-anggapan yang bertaruh pada sejarah dan selalu melihat sejarah meski hal-hal yang negatif sebenarnya hal yang buruk.

            Pemahaman mengenai kesalahan-kesalahan berfikir yang terjadi didalam masyarakat, memang sepenuhnya masih belum diketahui mayoritas orang seperti beberapa kesalahan berfikir yang tertera diatas.
           


Tags :

No comments:

Post a Comment