Dalam
buku Jalaluddin Rahmat yang berjudul “Rekayasa Sosial” dijelaskan didalamnya ada beberapa hal
kesalahan-kesalahan berfikir yang ada didalam bangsa Indonesia. Di dalam buku
tersebut mengutarakan bahwa sebelum kita merubah bangsa ini mulai dari kondisi
pereekonomian, perpolitikan, dan penegakan hukumnya alangkah baiknya apabila
kita terlebih dahulu memperbaiki cara-cara berfikir masyarakat kita sendiri.
Penulis buku “Rekayasa Sosial” yang biasanya disingkat reksos itu menyadari
betul bahwa apa yang telah ia tuliskan dalam bab kesalahan-kesalahan berfikir
sudah sesuai dengan realitas dalam keadaan yang terjadi dalam masyarakat.
Dikarenakan dalam mengambil kesimpulan kesalahan berfikir, Jalaluddin Rahmat
menggunakan metode observasi dalam pengumpulan data-datanya.
.Selain didalam buku reksos, telah pula
dijabarkan kesalahan-kesalahan berfikir sejak dahulu seperti dalam buku Madilog
pada bab awal yang ditulis oleh Tan Malaka. Dalam bab awal yang berjudul
“Logika Mistik” menjelaskan bahwa kepercayaan pada masa dahulu di negera Egypte
atau yang sekarang dikenal negara Mesir
mayoritas masyarakatnya menyembah Dewa Rah atau Dewa Matahari akan tetapi
kepercayaan itu dibantah oleh teori Hukum Evolusi oleh Charles Darwin dan
dibantah dengan Hukum Tentang Ketetapannya jumlah kodrat didunia ini, yang
digagas oleh seorang ahli kimia yang berasal dari Inggris (1818-1889), yang
bernama Youle. Menurut kepercayaan masyarakat Mesir, apabila Dewa Rah
menyebutkan sesuatu itu akan terjadi maka hanya dengan sekejap mata hal
tersebut akan terjadi. Penyembahan masyarakat Mesir terhadap Dewa Rah atau Dewa
matahari itu dianggap kesalahan berfikir karna menggaibkan sesuatu yang
sebenarnya tidak dapat berkuasa dimuka bumi karena matahari dapat terbenam atau
dapat tersingkirkan.
Ada beberapa kesalahan-kesalahan berfikir
yang ada didalam buku Rekayasa Sosial pada bab awal dalam buku Jalaluddin
Rahmat, diantaranya :
1. Mengambil kesimpulan dalam menilai
sesuatu secara cepat. Seperti contoh, misalkan si A untuk pertama kalinya
mengendarai sepeda motornya pada hari senin dengan kecepatan yang sangat tinggi
dikarenakan terburu-buru menghadiri pertemuan. Kejadian itu disaksikan oleh si
B, dan si B mengambil kesimpulan bahwa si A sering ugal-ugalan dalam berkendara
dijalan raya.
2. Pemikiran bahwa persamaan rejeki tiap
orang. Misalkan seseorang melihat orang lain sukses dalam usaha menjual ayam,
maka banyak orang lain mengikuti jejak usaha penjualan ayam itu dilokasi yang
sama tempat penjual ayam yang sukses tadi. Berharap bahwa rejekinya seperti
yang diperoleh si penjual ayam yang sukses tadi. Padahal rejeki belum tentu
sama.
3. Pemikiran yang mensakralkan sesuatu.
Seperti contoh disuatu daerah ingin melakukan suatu kegiatan spiritual akan
tetapi dibatalkan karena beberapa kendala dan pada saat yang bersamaan bencana
alam melanda daerah tersebut. Masyarakat daerah tersebut pun berfikiran bahwa
bencana alam terjadi diakibatkan kegiatan spiritual tadi dibatalkan. Padahal
bencana alam dan kegiatan spiritual tersebut tidak ada hubungannya.
4. Menggunakan suatu otoritas dalam
berargumen walaupun otoritas tersebut sama sekali tidak relevan atau ambigu
dalam perbincangan. Seperti ketika orang memakai acuan Al-Qur’an dalam
berargumen namun lawan berbicara membantah argumentnya, maka orang yang menggunakan landasan Al-Quran tadi
menilai lawan bicaranya kafir karena telah membantahnya. Padahal belum tentu
pula intrepretasi orang yang menggunakan Al-Quran tadi itu sudah betul dalam
mengangkat suatu kisah ataupun ayat dalam kitab suci diperbincangannya.
5. Pemikiran yang mengatakan bahwa sesuatu
yang berdasarkan sejarah tidak dapat dihapus karena sudah ada sejak lampau.
Seperti kondisi kemiskinan yang terjadi disuatu negara tidak dapat diberantas
karena telah dahulu adanya. Padahal relevansi antara masa dahulu dan kondisi
kekinian sebetulnya telah banyak berbeda. Anggapan-anggapan yang bertaruh pada
sejarah dan selalu melihat sejarah meski hal-hal yang negatif sebenarnya hal
yang buruk.
Pemahaman
mengenai kesalahan-kesalahan berfikir yang terjadi didalam masyarakat, memang
sepenuhnya masih belum diketahui mayoritas orang seperti beberapa kesalahan
berfikir yang tertera diatas.

No comments:
Post a Comment