Popular Posts

Popular Posts

Wednesday, February 04, 2015

Analisis Teori Modernisasi dan Dependensi di Negara Berkembang

| No comment

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kita mengetahui bahwa saat ini, beberapa negara berkembang sedang gempar-gemparnya mengadakan berbagai program untuk memajukan masyarakatnya. Selain itu, mereka juga berusaha memperbaiki kondisi perekonomiannya dengan melakukan hubungan kerja sama bersama para kapitalis dari negara maju. Budaya lokal disingkirkan dan digantikan dengan budaya barat yang mengarah kepada liberalisme. Namun di sisi lain, beberapa negara berkembang memilih untuk “menjadi diri sendiri” karena menyadari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan apabila ia harus menjadi sebuah negara yang “dipaksa” menjadi maju. Teori modernisasi dan dependensi pun hadir untuk membedah kasus-kasus tersebut.
Teori dependensi dan teori modernisasi merupakan dua buah teori yang sudah tidak asing lagi di telinga para pengstudi ilmu hubungan internasional. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kawasan internasional terdapat negara maju dan negara berkembang yang saling bekerja sama untuk mencapai sebuah kepentingan bersama. Teori modernisasi dan teori dependensi hadir untuk menggambarkan kondisi yang dialami oleh negara-negara berkembang ketika melakukan hubungan kerja sama dengan negara-negara maju.
Walaupun sama-sama menggambarkan kondisi yang berada pada negara berkembang, kedua teori ini saling bertolak belakang. Di satu sisi, teori modernisasi lahir untuk memajukan sebuah negara berkembang, namun di sisi lain, teori dependensi lahir untuk membebaskan negara berkembang dari kekangan yang ditimbulkan oleh keinginannya untuk menjadi negara maju. Kedua teori ini pun menjadi sebuah dilema pada negara-negara berkembang untuk menentukan arah kebijakannya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan teori modernisasi dan teori dependensi?
2.      Bagaimana keterkaitan antara teori modernisasi dan teori dependensi terhadap negara berkembang?

C.    Tujuan
1.      Untuk memahami teori modernisasi dan teori dependensi
2.      Untuk memahami keterkaitan antara teori modernisasi dan teori dependensi terhadap negara berkembang

D.    Manfaat
1.      Pembaca mampu memahami seperti apa teori modernisasi dan teori dependensi
2.      Pembaca mampu menganalisis hubungan antara teori modernisasi dan teori dependensi terhadap negara berkembang




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Modernisasi
Teori modernisasi lahir sebagai tanggapan ilmuwan sosial Barat terhadap apa yang terjadi di Dunia Ketiga setelah Perang Dunia II. Teori ini muncul sebagai upaya dari Amerika untuk memenangkan perang ideologi melawan sosialisme yang pada waktu itu sedang populer. Bersamaan dengan itu, lahirnya negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin bekas jajahan Eropa juga melatarbelakangi perkembangan teori ini. Negara adidaya melihat hal ini sebagai peluang untuk membantu Negara Dunia Ketiga sebagai upaya stabilitas ekonomi dan politik.
Selain itu, teori modernisasi pun didukung oleh tokoh-tokoh seperti Neil Smelser dengan teori diferensiasi strukturalnya. Smelser beranggapan bahwa dengan proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam beberapa substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Rostow juga mengemukakan bahwa terdapat lima tahapan pembangunan ekonomi yang merupakan teori tahapan pertumbuhan ekonomi yaitu tahap masyarakat tradisional, prakondisi lepas landas, lepas landas, bergerak ke kedewasaan, dan berakhir dengan tahap konsumsi massal yang tinggi. Di samping itu, ada beberapa varian teori modernisasi lain seperti Coleman dengan diferensiasi dan modernisasi politiknya, Harrod-Domar yang menekankan penyediaan modal untuk investasi pembangunan, McClelland dengan teori need for Achievement (n-Ach)-nya, Weber dengan "Etika Protestan"-nya, Hoselitz yang membahas faktor-faktor nonekonomi yang ditinggalkan Rostow yang disebut faktor "kondisi lingkungan", dan Inkeles yang mengemukakan ciri-ciri manusia modern.
Teori modernisasi memberikan solusi bahwa untuk membantu Dunia Ketiga termasuk kemiskinan, tidak saja diperlukan bantuan modal dari negara-negara maju, tetapi negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan kemudian melembagakan demokrasi politik (Garna, 1999: 9).Karena berpatokan dengan perkembangan di Barat, modernisasi sering diidentikkan dengan westernisasi.

Teori modernisasi memiliki asumsi dasar sebagai berikut:
1.      Modernisasi merupakan proses bertahap. Ia tidak serta merta terjadi begitu saja namun terdapat proses yang membentuknya secara perlahan dan bertahap.
2.      Modernisasi juga merupakan proses homogenisasi. Homogenitas melalui pengembangan sektor ekonomi itu terkesan dipaksakan dari kondisi yang heterogen, hal itu kemudian menjadikan pula ketimpangan pembangunan antar daerah dan antarsektor.
3.      Dalam wujudnya, modernisasi terkadang dianggap sebagai proses westernisasi. Westernisasi merupakan suatu proses yang menuju tingkah laku negara-negara barat.
4.      Modernisasi dilihat sebagai proses yang tidak bergerak mundur, ia terus berkembang mengikuti zaman.
5.      Modernisasi merupakan perubahan yang diinginkan dan dibutuhkan (progresif) serta terus-menerus (immanent). Teknologi semakin berkembang dan kebutuhan manusia tidak pernah ada batasnya sehingga secara tidak langsung, perkembangan zaman menuntut terjadinya sebuah modernisasi.
6.      Terciptanya lapangan kerja dan struktur-struktur baru dalam masyarakat.

B.     Teori Dependensi
Teori ini merupakan kritik terhadap teori modernisasi. Dasar pemikiran teori ini adalah pandangan Marx tentang masyarakat sebagai satu kesatuan sistem atas dua struktur utama: struktur atas dan bawah yang mana struktur atas berupa sistem budaya, ideologi, politik dan sosial digerakkan oleh struktur bawah yang merupakan sistem ekonomi. Teori ini melihat ketidakseimbangan dalam hubungan antara Negara Dunia Ketiga dengan Negara Dunia Pertama karena mereka akan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral. Sebagai hasilnya, Negara Dunia Ketiga menjadi miskin, terbelakang, dan kondisi politik ekonominya tidak stabil. Hal ini merupakan buah pemikiran dari Paul Baran, salah satu tokoh teori dependensi. Ia mengelompokkan ‘dua dunia' tersebut sebagai negara kapitalis (negara pusat) dan pra-kapitalis (kapitalis pinggiran) yang tidak akan pernah bisa menjadi besar. Sedangkan Andre Gunder Frank membagi negara-negara di dunia ini atas dua kelompok yaitu negara metropolis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang. 
Hubungan ketergantungan seperti ini disebut Frank sebagai metropolis-satelite relationship. Menurutnya, suatu pembangunan di negara satelit dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu modal asing, pemerintah lokal negara satelit, dan kaum borjuis lokal. Hasil pembangunan hanya terjadi di tiga kalangan tersebut sedangkan rakyat kecil hanya sebagai buruh. Baran dan Frank menyarankan agar Negara Dunia Ketiga harus melakukan industrialisasi sendiri, tidak mengimpor teknologi, meninjau hutang dan perdagangan dengan negara pusat. Dos Santos juga menyatakanbahwa hubungan antara negara dominan dengan negara bergantung merupakan hubungan yang tidak sederajat karena pembangunan di negara dominan terjadi atas biaya yang dibebankan pada negara bergantung. Melalui kegiatan pasar yang monopolistik dalam hubungan perdagangan internasional, hubungan utang-piutang dan ekspor modal dalam hubungan perdagangan modal, surplus ekonomi yang dihasilkan di negara tergantung mengalir dan berpindah ke negara dominan. Menurut Santos, dua bentuk ketergantungan pertama, adalah ketergantungan kolonial dan ketergantungan industri keuangan, selain itu ia pun menyebutkan jenis ketergantungan yang lain yaitu ketergantungan teknologis-industrial.
Teori dependensi memiliki asumsi dasar sebagai berikut:
1.      Keadaan ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang universal, berlaku bagi seluruh negara dunia ketiga.
2.      Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor eksternal.
3.      Situasi ketergantungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses polarisasi regional ekonomi global.
4.      Keadaan ketergantungan dilihat sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan pembangunan. 
5.      Perkembangan masyarakat didasarkan atas konflik yang terjadi. Konflik-konflik yang tercipta justru membawa perubahan masyarakat secara global.

C.    Keterkaitan antara Teori Modernisasi dan Teori Dependensi terhadap Negara Berkembang
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa teori dependensi dan teori modernisasi sangat sering dipakai dalam menganalisis hubungan kerja sama yang terjadi antara negara maju dan negara berkembang. Namun, yang sering menjadi fokus utama dari kedua teori ini adalah negara berkembang itu sendiri.
Teori modernisasi menerangkan bahwa sebuah negara berkembang harus memperbaharui/mengubah mentalitas rakyatnya dengan cara menghilangkan budaya lokal dan menggantinya dengan budaya global agar masyarakatnya semakin maju. Untuk mendukung program tersebut,negara berkembang akan diberikan berbagai macam bantuan oleh negara-negara maju dengan dalih “tolong menolong”. Jadi, masyarakat negara berkembang yang pola perilakunya semula masih bersifat tradisional diubah menjadi modern.
Selain sebuah revolusi mental yang diterapkan pada masyarakat negara berkembang, perekonomian negara berkembang juga dibantu oleh negara-negara maju. Berbagai investor asing masuk dengan menanamkan modalnya, selain itu mereka juga dipinjamkan dana untuk melakukan pembangunan. Hal ini mendekatkan teori modernisasi pada isu liberalisasi yang terjadi di negara-negara berkembang.
Lain halnya dengan teori modernisasi, teori dependensi melihat hal ini sebagai sebuah “bencana” bagi negara berkembang. Bantuan-bantuan yang diberikan dari negara maju kepada negara berkembang mengakibatkan sebuah ketergantungan yang terjadi pada negara berkembang. Negara berkembang akan terus dimanfaatkan dan dieksploitasi dengan dalih “tolong menolong” dari negara maju dan akan sulit bagi negara berkembang untuk melepaskan diri dari negara maju karena keterbiasaannya dibantu oleh negara maju. Teori dependensi berusaha menyadarkan negara berkembang untuk melepaskan diri dari “akal bulus” negara maju dengan menyarankan bahwa struktur dan lingkunganlah yang perlu diubah, bukan kultur atau budaya. Liberalisasi atau perdagangan bebas bukanlah solusi yang baik bagi negara berkembang karena bukannya menguntungkan, hal tersebut hanya menyusahkan mereka.




  

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa teori modernisasi dan dependensi memiliki keterkaitan satu sama lain dan sering dipakai untuk menganalisis kasus-kasus yang terjadi pada negara berkembang terhadap kerja sama yang dilakukannya pada negara maju. Teori modernisasi mendukung negara berkembang menjadi maju dengan menerima berbagai macam bantuan dari negara maju dan diadakannya liberalisasi, sedangkan teori dependensi berusaha menyadarkan negara-negara berkembang untuk melepaskan diri dari negara maju.






DAFTAR PUSTAKA

http://pesantrenbudaya.com/?id=316 diakses pada 22 Desember 2014.
http://www.scribd.com/doc/30222997/Analisis-Komparatif-Antara-Teori-Modernisasi-Dan-    Teori-Ketergantungan-Terhadap-Pembangunan-Dunia-Ketiga#scribd diakses pada 22 Desember 2014
Tags :

No comments:

Post a Comment