PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kita
mengetahui bahwa saat ini, beberapa negara berkembang sedang gempar-gemparnya
mengadakan berbagai program untuk memajukan masyarakatnya. Selain itu, mereka
juga berusaha memperbaiki kondisi perekonomiannya dengan melakukan hubungan
kerja sama bersama para kapitalis dari negara maju. Budaya lokal disingkirkan
dan digantikan dengan budaya barat yang mengarah kepada liberalisme. Namun di
sisi lain, beberapa negara berkembang memilih untuk “menjadi diri sendiri”
karena menyadari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan apabila ia harus
menjadi sebuah negara yang “dipaksa” menjadi maju. Teori modernisasi dan
dependensi pun hadir untuk membedah kasus-kasus tersebut.
Teori
dependensi dan teori modernisasi merupakan dua buah teori yang sudah tidak
asing lagi di telinga para pengstudi ilmu hubungan internasional. Seperti yang
kita ketahui bahwa dalam kawasan internasional terdapat negara maju dan negara
berkembang yang saling bekerja sama untuk mencapai sebuah kepentingan bersama. Teori
modernisasi dan teori dependensi hadir untuk menggambarkan kondisi yang dialami
oleh negara-negara berkembang ketika melakukan hubungan kerja sama dengan
negara-negara maju.
Walaupun
sama-sama menggambarkan kondisi yang berada pada negara berkembang, kedua teori
ini saling bertolak belakang. Di satu sisi, teori modernisasi lahir untuk
memajukan sebuah negara berkembang, namun di sisi lain, teori dependensi lahir
untuk membebaskan negara berkembang dari kekangan yang ditimbulkan oleh
keinginannya untuk menjadi negara maju. Kedua teori ini pun menjadi sebuah
dilema pada negara-negara berkembang untuk menentukan arah kebijakannya.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan teori modernisasi dan teori dependensi?
2. Bagaimana
keterkaitan antara teori modernisasi dan teori dependensi terhadap negara
berkembang?
C.
Tujuan
1. Untuk
memahami teori modernisasi dan teori dependensi
2. Untuk
memahami keterkaitan antara teori modernisasi dan teori dependensi terhadap
negara berkembang
D.
Manfaat
1. Pembaca
mampu memahami seperti apa teori modernisasi dan teori dependensi
2. Pembaca
mampu menganalisis hubungan antara teori modernisasi dan teori dependensi
terhadap negara berkembang
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori
Modernisasi
Teori
modernisasi lahir sebagai tanggapan ilmuwan sosial Barat terhadap apa yang
terjadi di Dunia Ketiga setelah Perang Dunia II. Teori ini muncul sebagai upaya
dari Amerika untuk memenangkan perang ideologi melawan sosialisme yang pada
waktu itu sedang populer. Bersamaan dengan itu, lahirnya negara-negara merdeka
baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin bekas jajahan Eropa juga
melatarbelakangi perkembangan teori ini. Negara adidaya melihat hal ini sebagai
peluang untuk membantu Negara Dunia Ketiga sebagai upaya stabilitas ekonomi dan
politik.
Selain
itu, teori modernisasi pun didukung oleh tokoh-tokoh seperti Neil Smelser
dengan teori diferensiasi strukturalnya. Smelser beranggapan bahwa dengan
proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan
berbagai berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam beberapa substruktur untuk
menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Rostow juga mengemukakan bahwa
terdapat lima tahapan pembangunan ekonomi yang merupakan teori tahapan
pertumbuhan ekonomi yaitu tahap masyarakat tradisional, prakondisi lepas
landas, lepas landas, bergerak ke kedewasaan, dan berakhir dengan tahap
konsumsi massal yang tinggi. Di samping itu, ada beberapa varian teori
modernisasi lain seperti Coleman dengan diferensiasi dan modernisasi
politiknya, Harrod-Domar yang menekankan penyediaan modal untuk investasi
pembangunan, McClelland dengan teori need for Achievement (n-Ach)-nya, Weber
dengan "Etika Protestan"-nya, Hoselitz yang membahas faktor-faktor
nonekonomi yang ditinggalkan Rostow yang disebut faktor "kondisi
lingkungan", dan Inkeles yang mengemukakan ciri-ciri manusia modern.
Teori
modernisasi memberikan solusi bahwa untuk membantu Dunia Ketiga termasuk
kemiskinan, tidak saja diperlukan bantuan modal dari negara-negara maju, tetapi
negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional
dan kemudian melembagakan demokrasi politik (Garna, 1999: 9).Karena berpatokan
dengan perkembangan di Barat, modernisasi sering diidentikkan dengan
westernisasi.
Teori
modernisasi memiliki asumsi dasar sebagai berikut:
1. Modernisasi
merupakan proses bertahap. Ia tidak serta merta terjadi begitu saja namun
terdapat proses yang membentuknya secara perlahan dan bertahap.
2. Modernisasi
juga merupakan proses homogenisasi. Homogenitas melalui pengembangan sektor
ekonomi itu terkesan dipaksakan dari kondisi yang heterogen, hal itu kemudian
menjadikan pula ketimpangan pembangunan antar daerah dan antarsektor.
3. Dalam
wujudnya, modernisasi terkadang dianggap sebagai proses westernisasi.
Westernisasi merupakan suatu proses yang menuju tingkah laku negara-negara
barat.
4. Modernisasi
dilihat sebagai proses yang tidak bergerak mundur, ia terus berkembang
mengikuti zaman.
5. Modernisasi
merupakan perubahan yang diinginkan dan dibutuhkan (progresif) serta
terus-menerus (immanent). Teknologi semakin berkembang dan kebutuhan manusia
tidak pernah ada batasnya sehingga secara tidak langsung, perkembangan zaman
menuntut terjadinya sebuah modernisasi.
6. Terciptanya
lapangan kerja dan struktur-struktur baru dalam masyarakat.
B.
Teori
Dependensi
Teori
ini merupakan kritik terhadap teori modernisasi. Dasar pemikiran teori ini
adalah pandangan Marx tentang masyarakat sebagai satu kesatuan sistem atas dua
struktur utama: struktur atas dan bawah yang mana struktur atas berupa sistem
budaya, ideologi, politik dan sosial digerakkan oleh struktur bawah yang
merupakan sistem ekonomi. Teori ini melihat ketidakseimbangan dalam hubungan
antara Negara Dunia Ketiga dengan Negara Dunia Pertama karena mereka akan
selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara
sentral. Sebagai hasilnya, Negara Dunia Ketiga menjadi miskin, terbelakang, dan
kondisi politik ekonominya tidak stabil. Hal ini merupakan buah pemikiran dari
Paul Baran, salah satu tokoh teori dependensi. Ia mengelompokkan ‘dua dunia' tersebut
sebagai negara kapitalis (negara pusat) dan pra-kapitalis (kapitalis pinggiran)
yang tidak akan pernah bisa menjadi besar. Sedangkan Andre Gunder Frank membagi
negara-negara di dunia ini atas dua kelompok yaitu negara metropolis maju dan
negara-negara satelit yang terbelakang.
Hubungan
ketergantungan seperti ini disebut Frank sebagai metropolis-satelite
relationship. Menurutnya, suatu pembangunan di negara satelit dipengaruhi oleh
tiga komponen utama, yaitu modal asing, pemerintah lokal negara satelit, dan
kaum borjuis lokal. Hasil pembangunan hanya terjadi di tiga kalangan tersebut
sedangkan rakyat kecil hanya sebagai buruh. Baran dan Frank menyarankan agar
Negara Dunia Ketiga harus melakukan industrialisasi sendiri, tidak mengimpor
teknologi, meninjau hutang dan perdagangan dengan negara pusat. Dos Santos juga
menyatakanbahwa hubungan antara negara dominan dengan negara bergantung
merupakan hubungan yang tidak sederajat karena pembangunan di negara dominan
terjadi atas biaya yang dibebankan pada negara bergantung. Melalui kegiatan
pasar yang monopolistik dalam hubungan perdagangan internasional, hubungan
utang-piutang dan ekspor modal dalam hubungan perdagangan modal, surplus
ekonomi yang dihasilkan di negara tergantung mengalir dan berpindah ke negara
dominan. Menurut Santos, dua bentuk ketergantungan pertama, adalah
ketergantungan kolonial dan ketergantungan industri keuangan, selain itu ia pun
menyebutkan jenis ketergantungan yang lain yaitu ketergantungan
teknologis-industrial.
Teori
dependensi memiliki asumsi dasar sebagai berikut:
1. Keadaan
ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang universal, berlaku bagi
seluruh negara dunia ketiga.
2. Ketergantungan
dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor eksternal.
3. Situasi
ketergantungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses polarisasi
regional ekonomi global.
4. Keadaan
ketergantungan dilihat sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan
pembangunan.
5. Perkembangan
masyarakat didasarkan atas konflik yang terjadi. Konflik-konflik yang tercipta
justru membawa perubahan masyarakat secara global.
C.
Keterkaitan
antara Teori Modernisasi dan Teori Dependensi terhadap Negara Berkembang
Seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa teori dependensi dan teori modernisasi sangat
sering dipakai dalam menganalisis hubungan kerja sama yang terjadi antara
negara maju dan negara berkembang. Namun, yang sering menjadi fokus utama dari
kedua teori ini adalah negara berkembang itu sendiri.
Teori
modernisasi menerangkan bahwa sebuah negara berkembang harus
memperbaharui/mengubah mentalitas rakyatnya dengan cara menghilangkan budaya
lokal dan menggantinya dengan budaya global agar masyarakatnya semakin maju.
Untuk mendukung program tersebut,negara berkembang akan diberikan berbagai macam
bantuan oleh negara-negara maju dengan dalih “tolong menolong”. Jadi,
masyarakat negara berkembang yang pola perilakunya semula masih bersifat
tradisional diubah menjadi modern.
Selain
sebuah revolusi mental yang diterapkan pada masyarakat negara berkembang,
perekonomian negara berkembang juga dibantu oleh negara-negara maju. Berbagai
investor asing masuk dengan menanamkan modalnya, selain itu mereka juga
dipinjamkan dana untuk melakukan pembangunan. Hal ini mendekatkan teori
modernisasi pada isu liberalisasi yang terjadi di negara-negara berkembang.
Lain
halnya dengan teori modernisasi, teori dependensi melihat hal ini sebagai
sebuah “bencana” bagi negara berkembang. Bantuan-bantuan yang diberikan dari
negara maju kepada negara berkembang mengakibatkan sebuah ketergantungan yang
terjadi pada negara berkembang. Negara berkembang akan terus dimanfaatkan dan
dieksploitasi dengan dalih “tolong menolong” dari negara maju dan akan sulit
bagi negara berkembang untuk melepaskan diri dari negara maju karena keterbiasaannya
dibantu oleh negara maju. Teori dependensi berusaha menyadarkan negara
berkembang untuk melepaskan diri dari “akal bulus” negara maju dengan
menyarankan bahwa struktur dan lingkunganlah yang perlu diubah, bukan kultur
atau budaya. Liberalisasi atau perdagangan bebas bukanlah solusi yang baik bagi
negara berkembang karena bukannya menguntungkan, hal tersebut hanya menyusahkan
mereka.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas, dapat
disimpulkan bahwa teori modernisasi dan dependensi memiliki keterkaitan satu
sama lain dan sering dipakai untuk menganalisis kasus-kasus yang terjadi pada
negara berkembang terhadap kerja sama yang dilakukannya pada negara maju. Teori
modernisasi mendukung negara berkembang menjadi maju dengan menerima berbagai
macam bantuan dari negara maju dan diadakannya liberalisasi, sedangkan teori
dependensi berusaha menyadarkan negara-negara berkembang untuk melepaskan diri
dari negara maju.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.academia.edu/5527275/Dependency_theory
diakses pada 22 Desember 2014.
http://pesantrenbudaya.com/?id=316
diakses pada 22 Desember 2014.
http://www.scribd.com/doc/30222997/Analisis-Komparatif-Antara-Teori-Modernisasi-Dan-
Teori-Ketergantungan-Terhadap-Pembangunan-Dunia-Ketiga#scribd diakses pada 22
Desember 2014

No comments:
Post a Comment