Rabu, 6 Agustus 2014 pukul 7 malam. Tim sudah berada di pelabuhan Makassar. Terimakasih buat teman teman yang lain karena sudah menyupport kami dalam segala bentuk persiapan termasuk akomodasi dan materi. Tim kami terdiri dari 10 orangKami semua sudah sering berpetualang bersama sejak kami masih duduk di bangku SMA. Bergerak dalam satu bendera penggiat alam bebas bernama KPA Wanagiri Wirabakt Makassar.
Mengisi liburan semester pada waktu itu, kami semua berencana mencicipi gunung yang konon adalah gunung dengan panorama terindah se-Nusantara. Tepatnya di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung api tertinggi kedua setelah G.kerinci.
Memiliki ketinggian 3726mdpl, dengan letak geografis 8º25' LS dan 116º28' BT. Gunung itu bernama Rinjani, dengan puncak bernama Dewi anjani..
Terimakasih kepada Tuhan YME, akhirnya pada tanggal 6 Agustus 2014, impian kami ber-sepuluh akan segera terealisasikan. Diawali dengan berangkat mengenakan Kapal Penumpang dari pelabuhan Makassar menuju Pelabuhan Lembar Mataram, P.Lombok.
Perjalanan ini memakan waktu 3 hari 2 malam, dengan beberapa kali pemberhentian/transit.
...
Sabtu 9 Agustus 2014 pukul 3.15 Alhamdulillah kapal sandar di Pelabuhan Lembar Mataram, Pulau Lombok. Tim lalu bergegas meninggakan dek yang di penuhi penumpang yang datang dari berbagai penjuru di Indonesia. Awal mula menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar, kami di suguhkan pemandangan para turis dari berbagai belahan dunia yang tengah sibuk mondar-mandir kesana kemari. Kami tak lama di pelabuhan Lembar. Kami bergegas mencari angkutan umum untuk ke kota, menyusul kawan yang sudah lama stay di kota Mataram menuggu kami. Tepatnya di Sekret Mapala Handayani, Universitas Mataram. Kami berencana untuk beristirahat disana.
Pukul 18.00 di tengah perjalanan kami mendapati kabar bahwa sekret Mapala Handayani tengah full di penuhi pendaki-pendaki lain dari pelosok Indonesia, Sehingga tidak ada tempat untuk kami bisa meregangkan kaki setelah perjalanan 3 hari 2 malam di laut. Mendengar berita itu, kami memutuskan untuk singgah di sebuah taman di Kota Mataram yang agak dekat dari Universits ikip Mataram untuk berpikir mencari tempat peristirahatan. Mau bagaimana lagi, kami hanya membayar sopir untuk satu kali pemberhentian. "Masing-masing menelpon orang tuanya, tapi hanya ada satu jawaban. Nginap di mesjid" begitu tulis salah seorang kawan di akun sosial medianya. Kami pun tertawa karena memang begitu yang sedang terjadi pada saat itu. Sedikit putus asa, akhirnya tiba kabar baru kalo sekretariat mapala handayani yang tadinya full pendatang kini tengah kosong karena para pendatang tersebut sudah pergi ke tempat kawan mereka masing-masing. Alhamdulillah kami panjatkan dalam hati. Karena minibus yang tadi kami naiki sudah pergi, akhirnya kami jalan kaki dengan senyuman penuh rasa syukur menuju Sekretariat Mapala Handayani Univ. Ikip Mataram.
kurang lebih 1/2 jam perjalan dengan berjalan kaki Alhamdulilah kami sampai di tujuan, tempat kami bisa meregangkan persendian sebelum melanjutkan perjalanan yang panjang esok hari nya. Senyum ramah menyambut kedatangan kami, Salam kenal kawan-kawan baru dari Mapala Handayani.
...
Minggu 10 Agustus 2014. Pukul 10.00 pagi, terpaan sinar mentari membangunkan satu per satu anggota tim. Kami pun segera bergegas packing karena perjalanan masih berlanjut. Yang kami bawa hanya barang-barang yang penting saja, selebihnya kami taruh di sekret mapala handayani. Rencana hari itu kami akan berangkat ke desa terakhir sebelum memulai nanjak ke Rinjani. Desa terakhir itu ialah Desa Sembalun, yang terletak di Kab. Lombok Timur, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 4 jam dari kota Mataram.
Akhirnya pukul 11 lewat segala sesuatu sudah di persiapkan mulai dari logistic pendakian, ransum, dan materi yang lain. Kami pun pamit kepada teman-teman Mapala Handayani, yang sudah cukup banyak membantu kami. Perjalanan dimulai pukul 12.00 dengan menyewa sebuah mini bus yang akan mengantarkan kami menuju tempat pengamblan pickup. perjalanan hanya memakan waktu sekitar 10 menit, dan akhirnya kami di oper ke mobil pickup yang akan mengantarkan kami menuju desa Sembalun. Pemandangan yang tak biasa kami temui di mobil pickup tersebut. Ternyata disana sudah ada stay daritadi sekelompok turis asing. Tim mereka terdiri dari tiga orang cewek dan satu cowok. Jadi total yang ada di atas mobil pickup tersebut adalah 14 orang. dengan senang bisa satu mobil dengan mereka. Maklum, sebelum nya kami semua tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Tanpa menunggu lama lagi, Pak supir sudah menghidupkan mesin tanda perjalanan akan segera di mulai.
Di perjalanan, kami berbincang-bincang dengan para turis. Mereka datang dari New Zeland. Yang cowok bernama Matias, yang cewek 3 orang ini mereka bersaudara bernama Lili, Allen, dan Zizi. Mereka sangat tertarik dengan keindahan alam Indonesia, memang benar alam Indonesia indah. Tapi lebih menarik lagi kalo yang bilang itu ialah turis-turis asing dari Negara lain. Jalur yang berkelok-kelok, hamparan pepohonan hijau, dan pemandangan Gunung Rinjani dari kejauhan mengisi perjalanan kami.
Tak terasa sudah 1 jam lebih perjalanan. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat truk yang mengangkat angkutan lebih melaju dari tikungan yang berlawanan arah dengan kami, menyambar dahan-dahan pohon yang ada di atas sehingga membuat muatannya roboh dan dahan-dahan pohon ikut berjatuhan. Hal itu menimbulkan suara yang sangat gaduh dan dampaknya sangat fatal. Satu pengendara motor terjatuh akibat terkena dahan-dahan pohon tadi dan kecelakaan tak dapat terhindarkan. Mobil Pickup yang kami tumpangi pun tak luput, salah satu batang pohon tepat mengenai kaca depan mobil dan mengakibatkan kerusakan yang cukup parah. Pak supir pun menepi sejenak, Alhamdulillah semua penumpang dan supir tidak mengalami luka yg serius.
Berbagai macam hambatan kami jumpai selama perjalanan. Tambah lagi, Pak Supir terpaksa menunda perjalanan ke desa Sembalun dulu untuk beberapa lama. Dengan suatu alasan tertentu, ia harus membawa mobil tersebut ke kepolisian terdekat untuk mengurus sesuatu. Mau bagaimana lagi, kami semua harus ikut, Karna berhubung sudah tidak ada mobil yang lewat untuk pergi ke desa Sembalun.
Ada pemandangan menarik yang kami temui di dekat kantor polisi tempat Pak supir mengurus, masih di Kab. Lombok Tengah. Di depan kantor polisi tersebut terdapat mesjid, yang menarik dari mesjid ini adalah terdapat Al-Quran besar yang besar nya kalo tidak salah 3x2 m. Kami pun tak ingin melewatkan momen langkah ini dan segera mengabadikannya.
Berjam-jam berlalu, urusan dengan kepolisian setempat telah selesai, ditutup dengan berdamainya pengendara truk dengan sopir pick up kami.
Alhamdulillah perjalanan kami lanjutkan kembali sekitar pukul 19.00 setelah Magrib. Dinginnya cuaca perbatasan Lombok Tengah dan Timur, tak menyulutkan semangat kami. Kami pun larut dalam kebahagiaan tanpa perlu berpikir untuk pulang kembali setelah berbagai hambatan kami temui selama perjalanan. Canda tawa teman-teman sepanjang perjalanan, eh satu lagi kejadian menarik. Awalnya sepanjang jalan kami bernyanyi-nyanyi tidak karuan, kami juga menyanyikan lagu "Hening Cipta". Sontak si teman-teman turis terheran dan bertanya, "Is that ur National Anthem guys?" Kami pun hanya tertawa, dan mencoba meluruskan. "no no no, This is our National Anthem" dan tim pun serentak bernyanyi lagu "Indonesia Raya" dengan bangga di atas mobil pick up yang tengah melaju. Lalu kami bertanya bagaimana dengan lagu nasional di Negara mereka. Mereka lalu bernyanyi serentak seperti yang kami lakukan barusan. Mereka bernyanyi lagu Nasional negara mereka dengan bangga juga. Kami pun memberi applause yang meriah meskipun kami sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
ketemu di jalan
Pukul 23.00 Dini hari kami tiba di kaki Gunung Rinjani. Desa Sembalun, dengan ketinggian 1.156mdpl. Kami pun berpisah dengan teman-teman dari New Zeland, karena di desa Sembalun sudah di persiapkan penginapan khusus buat turis-turis asing. Tim sepakat untuk nginap satu malam dan memulai petualangan esok hari nya.
...
Senin, 11 Agustus 2014 pukul 10.00 pagi, saya terbangun dan melihat teman-teman yang lain sudah mempersiapkan peralatan. Ada yang masih packing, ada yang masih mencari-cari toilet, ada juga yang sudah mandi dan tinggal membereskan tenda. Cuaca pagi hari itu sangat cerah, membuat semangat kami kian berapi api untuk segera memulai petualangan. Pemandangan utuh Rinjani dari kejauhan dengan megahnya seolah tak menyulutkan semangat kami untuk segera menaikinya. Satu hal lagi, diantara tim tidak ada yang pernah ke Rinjani. Kami hanya mengandalkan modal informasi, dan pengalaman kami sejauh ini. Maklumlah, kami tidak memiliki materi yang cukup untuk menyewa porter (pengantar).
view G.Rinjani dari pos Registrasi Sembalun
Pukul 14.00 segala persiapan sudah selesai, termasuk registrasi. Tim akan segera berangkat menuju pintu hutan Sembalun. Disanalah titik start awal dalam pendakian. Menuju gerbang hutan, perjalanan yang tidak se sederhana yang kami bayangkan. Kami kira, Rinjani seperti gunung-gunung lain pada umumnya. Yang hanya berjalan kaki dari desa terakhir sedikit saja kita sudah mendapati gerbang hutan. Ternyata, perlu menyewa mobil pickup lagi. Kata penduduk setempat, berjalan kaki akan banyak sekali memakan waktu. medan juga terjal dan penuh debu dan pasir, ditambah lagi terik matahari tengah tinggi-tingginya. Pasti akan sangat menguras tenaga.
Kami sebagai orang baru, pasti mengikuti saran dari penduduk setempat. Akhirnya kami menyewa pick up lagi untuk menuju gerbang. Dan memang, selama perjalanan kami tidak bisa melihat pemandangan sama sekali. Pandangan kami di tutupi oleh debu debu dan pasir yang sangat tebal.
1/2 jam sudah terlewati, Alhamdulillah pukul 14.30 kami sampai di pintu hutan Sembalun.
Tim lalu berdoa, memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Berdoa agar sepanjang perjalanan kami di berkahi oleh nikmat-Nya. "Wanagiri.. SATUKAN!!!" Teriakan pembakar semangat itupun mengawali perjalanan kami.
Setelah melewati gerbang, kami di suguhi dengan medan yang menurun, cukup terjal dan berpasir. Selang beberapa menit, hal itu membuat salah satu anggota tim mengalami sedikit insiden. Sebut saja Botak. Mungkin karena saking semangat nya, dia lalu terpeleset dan mengalami sedikit engkel. Tim pun memutuskan untuk beristirahat selagi Botak di rawat oleh salah satu anggota tim yang cukup paham tentang hal medis. Kami beristirahat di antara hamburan bebatuan vulkanik, 30 menit setelah gerbang. Tempat yang cukup landai buat beristirahat.
Beberapa saat kemudian, anggota yang mengalami sedikit insiden tadi, Alhamdulillah sudah mendingan setelah di rawat. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Dari bebatuan vulkanik tadi, sedikit tanjakan, lalu kami di suguhkan padang savana yang luar biasa indah. Jalur yang landai, dan hamparan padang rumput menemani kami sepanjang perjalanan. Jalur nya cukup terbuka. Jarang sekali kami menemukan pohon. Jarak antara satu pohon ke pohon lain jauhnya bisa beberapa meter. yang ada hanya hamparan rerumputan yang luar biasa indah, lukisan Sang Pencipta.
satu pohon untuk semua
Pukul 15.40 tim berhasil mencapai pos I setelah melewati padang savana. Teriknya matahari tak sedikit pun menyulutkan semngat tim. Kami memutuskan beristirahat sejenak di shelter yang berada di pos I. Minum, makan cemilan, rokok-an dan bercengkrama. Ada hal yang menarik yang tak pernah kami jumpai sebelumnya. Tepat di depan shelter, Ada lapak kecil. Jualannya sama dengan yang di jual oleh warung-warung pada umumnya. Tapi yang berbeda adalah harganya. Barang yang mereka jual terpaut lebih jauh harga biasanya. Misalnya, satu botol minuman penghilang dahaga berukuran kecil mencapai Rp40.000 wow. Itu bisa di maklumi, karena kita tengah berada di hutan, bukan di kota. Harganya sebanding dengan usaha pedagangnya mengangkat barang jualan tersebut sehingga sampai kesini. Penjual nya tidak lain adalah penduduk Desa Sembalun.
yang pake topi bukan pedagang
Setelah istirahat kami rasa sudah cukup, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya untuk mendirikan camp. Karena menurut informasi yang kami dapat, di pos II terdapat sumber air. Jalur yang kami lalui hampir sama dengan jalur menuju pos I. Dan hampir sama sekali tidak ada pepohonan. Hanya bentangan rerumputan dan sesekali kabut tipis menemani kami sepanjang perjalanan. Terkadang kami jumpai tanjakan, tetapi tidak begitu terjal. Seringkali kami menemukan sapi-sapi Lombok di sepanjang jalur. Menurut cerita, setiap keluarga di Desa Sembalun minimal memiliki 30 ekor sapi.
Pukul 17.30 tim tiba di pos II. Biasanya titik camp para pendaki adalah pos III. Di pos III juga terdapat sumber air, tapi tidak sejernih yang ada di pos II. Berhubung hari sudah mulai gelap, kami tidak mau mengambil resiko. Tim tetap memutuskan untuk mendirikan tenda di pos II di dekat shelter yang berada disana.
view puncak G.Rinjani dari pos II
Di pos II pemandangannya cukup memperihatinkan. Maksud saya, sampah berserakan dimana-mana . Yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh sangat disayangkan melihat Gunung dengan panorama terindah ini tidak luput dari sampah.
Disisi lain kita harus tetap berhati-hati. Barang-barang atau persediaan makanan biasanya bisa kecolongan oleh maling. Maling-maling di Rinjani ialah monyet-monyet liar yang biasanya menghampiri camp para pendaki lalu mengambil barang-barang mereka. Tetapi mereka tidak pernah menganggu para pendaki.
Tersangka utama
Setelah sedikit berbenah dan makan malam, tim pun menikmati indahnya malam pertama ini dengan secangkir kopi kemudian setelah itu lalu beristirahat. Terimakasih Tuhan akan kejadian hari ini, kami percaya esok pasti akan lebih baik.
sesaat setelah pergantian shift Matahari & Bulan
sunset view dari pos II
kehangatan yg menandingi bekunya Pos II
...
Selasa 12 Agustus, pukul 7.00 pagi. Beberapa anggota tim sudah bangun dan membangunkan yang lain untuk bersiap-siap. Kami pun berbagi tugas. Ada yang mengisi ulang persediaan air, ada yang mempersiapkan sarapan, adapula yang membersihkan diri. Oh iya, di pos II ini juga terdapat toilet umum tapi kondisi nya memperihatinkan. Gunung ini memang beda dengan yang lain. Segala fasilitas yang tidak biasa memang kerap kita temui disini.
Pukul 9.30 segala persiapan selesai, termasuk packing dan sarapan pagi. Tim lalu melanjutkan perjalanan menuju pos III kemudian ke Pelawangan Sembalun, titik terakhir sebelum summit.
Jalur yang dilalui menuju pos III cukup sama dengan jalur-jalur sebelumnya. Padang gersang dan savana. Di jalur ini sudah terlihat beberapa turis asing dengan semangat "Happy trackng". Itu yang mereka katakan tiap bertemu kami. Rata-rata para turis itu mereka tengah dalam perjalanan pulang. Jalur yang sedikit menanjak dan berdebu cukup menyulitkan kami.
Pukul 11.20 Alhamdulillah kami berhasil mencapai pos III. Perjalanan yang cukup menguras tenaga. Tim memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah teduh nya tebing bebatuan. Banyak pendaki dari pelosok Indonesia yang kami temui juga beristirahat disana. Kami pun bercengkrama dan menjalin silaturahmi antar sesama penggiat alam. Kami saling bertukar cerita. Tidak hanya itu, kami juga saling bertukar tembakau dari daerah kita masing-masing. Dia adalah Bang Reza, asli Lombok. Menawarkan kami tembakau khas Lombok, begitupula sebaliknya. Kami menawarkan tembakau merah khas Sulawesi-Selatan.
Tak lama kami bersantai, kami bertemu dengan kawan seperjalanan ke desa Sembalun. Ya, mereka yang dari New Zeland. Rupanya mereka baru memulai perjalanan tadi pagi dari Desa Sembalun. Wow.
Hi kawan se-pickup
Setelah istirahat kami rasa cukup, waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan. Pukul 12.15 bergegas menuju Pelawangan Sembalun, camp terakhir. Memasuki vegetasi hutan basah, kami langsung di jamu dengan tanjakan yang cukup terjal. Padang savana yang gersang dan berdebu tak lagi kami jumpai. Vegetasi hutan sudah berubah. Sudah banyak pepohonan dan kabut yang kerap menjumpai kami. Dataran yang landai sudah tidak ada lagi. Mungkin disinilah titik ter-ekstrim pendakian kami di Rinjani selama ini. Menurut cerita, inilah yang dijuluki "Bukit Penyesalan". Mengapa di juluki demikian? Jumlah bukit yang akan di lewati ada tujuh buah. Mungkin karena setiap orang yang melewati bukit ini akan menyesal, sebab bagi yang mental nya tidak cukup pasti akan berpikir untuk pulang. Akan tetapi, pulang pun akan tetap menyesal karena setelah melewati bukit ini, camp terakhir sudah ada di depan mata. Semangat kawan.
Melewati satu-dua bukit tim sudah ada yang drop. Setiap kami bertanya kepada porter yang kami temui, jawaban mereka cuma satu "Dikit lagi" ya kami tau itu hanyalah jawaban untuk membakar semangat kami. Di perjalanan kami menemui salah seorang pendaki dari Lampung memilih untuk pulang. Mungkin karena ia sudah menyerah. Badan nya besar. Melihat hal itu kami lantas berdoa memohon keselamatan dan di berikan semangat.
Sepanjang perjalanan ngetrack, saya menemui turis sekeluarga. Mereka datang dari Australia dan kemarin baru pulang dari G.Kerinci. Hebat, ayah ibu dan anak-anak nya yang masih kecil-kecil. sepanjang perjalanan kami kerap menjumpai kabut-kabut tipis dan hujan yang agak sedikit gerimis. Yang silih berganti menguji mental para pendaki.
Sore pukul 05.30 Setelah ngetrack selama berjam-jam dan istirahat yang sudah tak terhitung jumlahnya, Alhamdulillah Kami sampai di surga yang bernama pelawangan Sembalun. Yang "pelawangan" berarti "pintu" jadi artinya "pintu Sembalun. Syukur tak henti-hentinya kami panjatkan, bentangan awan sejauh kami memandang seolah menyambut kedatangan kami. Suasana yang ramai seperti di perkampungan, terpaan sinar matahari sore yang meneduhkan, ya disinilah titik terakhir G.Rinjani sebelum puncak. Pelawangan Sembalun dengan ketinggian 2639mdpl.
Perkampungan di atas awan
Dari pelawangan Sembalun kita sudah bisa melihat summit track yang akan kita lalui esok hari. Disana juga kita bisa melihat sedikit penampakan puncak Dewi Anjani.
Setelah puas menikmati panorama yang disuguhkan, tim lalu mendirikan tenda untuk segera makan malam dan beristirahat, rencana kami akan memulai summit attack pukul 03.00 dini hari. Jadi harus istirahat yang cukup untuk perjalanan subuh nanti.
Sunset view from pelawangan Sembalun
Good Night
...
Rabu, pukul 03.00 subuh, kami di bangunkan oleh alarm dari telepon selular yang berdering kencang. Dari luar sudah terdengar ramai para pendaki yang sudah bersiap muncak dengan headlamp nya. Kami pun tak ingin kelewatan. Tim membangunkan anggota lain yang masih tertidur pulas. Cuaca malam itu sangat dingin. Membuat tidur kami cukup nyenyak. Suhu yang begitu beku ini tak akan membuat kami mengurungkan niat untuk summit attack. Kami pun menyiapkan sarapan sebelum start. Setelah sarapan selesai, tim lalu berdoa memohon kesalamatan sepanjang perjalanan.
"Wanagiri.. Satukan!!" Teriakan tersebut kembali terdengar tatkala kami memulai summit attack, Meskipun kami tidak memiliki porter/tour guide, itu tidak masalah. Sebab, Rinjani lagi ramai ramainya jadi kami hanya mengikuti pengunjung yang lain dari belakang.
Melewarti pelawangan sembalun kami langsung di sambut dengan tracj yg cukup terjal dengan kemiringan kira-kira 50º dengan medan berpasir dan penuh dengan batu kerikil. Karena ramainya jalur, track yang kami lalui menjadi sangat berdebu, dan tak jarang kami mendengar suara batuk dari kerumunan.
Sejam kemudian jalur menjadi agak landai, ya kami sudah berada jauh di atas pelawangan sembalun. Cuaca menjadi semakin dingin dan deru angin kian ribut. Sebab, vegetasi berubah menjadi hamparan pasir dan bebatuan. Tidak ada lagi pohon. Dari sini kita sudah bisa melihat puncak Rinjani dengan jejeran headlamp para pendaki dari kejauhan. Melihat itu, kami pun kian bersemangat. Sebab, kami pikir bukit yang ada di depan kami sudah puncak. Beberapa lama kemudian, ternyata puncak masih ada di depan. Kejadian ini lantas membuat kami sedikit drop. Dari sini memang Danau Segeranak sudah terlihat dari tempat kami berpijak. Ternyata puncak masih sangat jauh di depan. Kami pun tak patah semangat dan kembali melanjutkan perjalanan.
Sejam kemudian, track yang landai pun berubah menjadi tanjakan yang sedikit menguras tenaga kami. Mungkin karena track ini di selimuti pasir yang cukup tebal . Sehingga menyulitkan pendaki untuk menapaknya. Ya, beginilah track khas gunung api. Penuh dengan kerikil dan pasir. Rasa ngantuk yang berat ditambah dinginnya hembusan angin yang tak henti-hentinya memaksa kami untuk beristirahat sejenak.
Beberapa lama kemudian, matahari sudah menunjukkan perkasa nya. Ternyata kami hanya bisa menatapnya dari jalur. Tidak hanya kami, banyak pendaki lain juga demikian. Tidak apa-apalah, yang penting kita harus mencapai puncak.
Pesona Fajar dari summit track
Menanti sang surya
Setelah kami rasa istirahat sudah cukup, kami lalu melanjutkan perjalanan. Walaupun puncak Dewi Anjani sudah kelihatan, akan tetapi perjalanan masih sangat jauh.
Sampailah kami di jalur yang biasa disebut dengan sebutan "letter L" Memang benar, track ini berbentuk seperti huruf "L" dengan kemiringan kurang lebih 60º dengan medan berbatu. Dari sini kita sudah melihat seisi pulau Lombok dan hamparan lautan yang biru. Disinilah track yang akan sangat menguji mental. Sebab, 3 langkah kita maju akan mundur lagi sekitar 2 langkah. Sangat menguras tenaga. Sempat terpikirkan oleh kami untuk mengurungkan niat untuk menemui Sang Dewi. Tapi dengan kepedulian antar sesama, kami saling menyemangati satu sama lain.
Letter L
Kamis,pukul 09.00 pagi. Syukur Alhamdulillah setelah perjalanan panjang yang menguji mental dan mnguras tenaga, akhirnya seluruh anggota tim berhasil mencapai puncak tertinggi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Puncak Dewi Anjani dengan ketinggian 3726mdpl. Gunung api tertingggi kedua di Indonesia, dengan panorama terindah se-Nusantara. Dengan tekad yang tak pernah padam, janji kepada kawan, kebersamaan, dan tak lupa bantuan dari Yang Maha Kuasa. Itulah yang menjadi kekuatan kami dan kami jadikan pegangan selama perjalanan. Serasa seperti surga.Ya begitulah imajinasi kami ketika menginjakkan kaki pertama kali di ketinggian 3726mdpl. Puncak Anjani tidak seluas seperti puncak-puncak gunung yang lain. Jadi, butuh antri dengan pendaki yang lain ketika ingin mengabadikan gambar. Puncak di penuhi dengan bebatuan, dan tentu saja pasir. Euforia kegembiraan tak bisa kami tahan. Terimakasih Tuhan..
ritual yang biasa kami lakukan
Setelah puas menikmati keindahan yang disajikan, tim lalu kembali. Karena perjalan masih panjang dan masih berlanjut. Destinasi berikutnya ialah Danau Segeranak. Perjalanan akan dimulai esok hari. Tim akan menghabiskan hari ini untuk beristirahat full.
View Pelawangan Sembalun dari summit track
...
Jum'at 15 Agustus pukul 08.00 pagi tim akan start dan menuju Danau Segeranak. Kata orang sih, puncak nya Rinjani saja belum cukup. Perjalanan ke G. Rinjani belum tuntas kalo belum ke Danau Segeranak. Perjalanan akan memakan waktu sedikit nya 6 jam dari Pelawangan Sembalun dengan track yang bervariasi untuk sampai ke Danau cantik tersebut. Rute perjalanan kami ialah Pelawangan Sembalun-Danau-Pelawangan Senaru. Jalur G. Rinjani ada dua. Yang satu via Sembalun, dan yang satu via Senaru. Biasanya pendaki kalo mau muncak bisa lewat Sembalun, kalo hanya ingin ke danau bisa lewat Senaru karena akan lebih mudah. Jadi, nanti kami pulang lewat Senaru. Kami berangkat dengan persediaan makanan yang mulai menipis. Akan tetapi kami di yakinkan oleh Bang Reza, salah seorang kawan kami untuk melanjutkan perjalanan. Sebab, disana kita bisa memancing, biasanya juga para porter menawarkan bahan makanan yang sudah tidak mereka butuhkan (biasanya turis makan nya sedikit). Kami lalu sangat antusias.
Pukul 14.20 kami tiba di danau yang luar biasa indah, Danau Segeranak. Danau cantik ini terletak di ketinggian kurang lebih 2000mdpl. Walaupun persediaan makanan kami sangat tipis, kami tidak khawatir. Sebab, di danau ini kita bisa memancing. Ekosistem ikan air tawar sangat melimpah di danau ini. Tak heran beberapa pendaki terlihat berlomba-lomba memanen mujair. Sangat ramai. Di danau inilah para pendaki melampiaskan penatnya setelah berjuang menggapai puncak.
Gunung Barujadi, Anak gunung dari Rinjani
Tim menginap semalam di Segeranak. Dan memutuskan untuk pulang esoknya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga bersama mereka. Semua suka, duka, dan kenangan telah kami lewati bersama selama perjalanan. Terimakasih sekali lagi buat Tuhan Yang Maha Esa, tim, dan teman teman yang membantu kami di balik layar. Sungguh kami ingin sekali berbagi pengalaman dengan kalian.
No comments:
Post a Comment