17-Agustus-2014, liburan kali ini, menjadi pemandangan dan Petualangan yang berbeda bagi saya bersama para sahabat saya yang bergabung dan bergerak dalam komunitas pencinta alam Wanagiri Wirabakti (KPA WWB).
Pada malam 15-Agustus-2014, Kami mulai bersiap-siap untuk memulai perjalan menuju kaki gunung Bawakaraeng yang bertempat di desa Lembanna-Malino-Kab.Gowa-SULSEL. Star dari Makassar pada pukul 21.00. Transportasi yang kami pilih dengan alternatif berkendara sepeda motor selalu menjadi pilihan kami untuk melakukan proses berkendara menuju tujuan. Di dalam perjalan menuju Malino, kami sudah menemukan pemandangan yang berbeda dari pendakian sebelumnya. Kami menjumpai puluhan pengendara motor yang berpakaian ala pendaki safety yang bertujuan sama dengan kami ,yaitu berupacara di atas awan.
Kurang lebih pukul 23.30 kami sampai di desa Lembanna, kemacetan panjang menyambut kami di gerbang desa, ternyata persyaratan baru yang berlaku, setiap tim pendaki wajib membayar uang masuk tapi dengan nominal se-ikhlasnya. Ketika melewati gerbang desa, kami langsung di arahkan ke tempat registrasi pendakian. Registrasi pendakian juga adalah hal yang baru tersaji dalam menu pendakian di Gunung Bawakaraeng. Gerakan registrasi pendakian ini di adakan untuk melakukan pengawasan siaga untuk mengantisipasi terjadinya ledakan jumlah pendaki yang hadir dan bertujuan mengibarkan bendera pada Hut ke-69 Indonesia di puncak Bawakaraeng.
Sepanjang perjalanan dari tempat registrasi menuju tempat parkir, terlihat begitu padatnya desa ini, bahkan tempat parkirpun kami kewalahan untuk mencarinya. Setelah menemukan Tempat yang pas untuk menitip kendaraan kami, Dengan pertimbangan tim, kami memutuskan langsung memulai pendakian menuju pos 2 untuk menghindari terjadinya kemacetan dalam perjalanan pendakian, serta habisnya lahan untuk kami mematok tenda kami, di karenakan ada ratusan pendaki yang akan memulai pendakian mereka ke esokan paginya.
Di perjalanan menuju pos 2, kami beristirahat sejenak di pos bayangan, menyeduh kopi dan makan gorengan yang sudah kamu masukkan ke dalam daftar ransum instan dan menjadi pilihan yang paling tepat.
Setelah bekal terasa cukup untuk mengisi kantong perut, kamipun lanjut berjalan. Terlihat volume jumlah pendaki yang terus meningkat setiap saatnya, Membuat gunung ini terasa serupa di tengah kota metropolitan yang tidak ada waktu tidur untuk menikmatinya.
Setelah sampai di pos 2, kami cepat mencari lokasi yang agak datar dan mulai mensterilkan lokasi, agar tidak membahayakan kami ketika terlelap nanti. Setelah rumah sederhana kami yang hangat berdiri sombong di antara tenda megah, kamipun mengisi waktu malam dengan bercerita dan tertawa mencoba timbul di antara pohon pinus yang berani. Merasa waktu istirahat yang harus terpenuhi untuk perjalanan panjang besok hari, maka kamipun serentak melepas lelah.
Suara kaki bergumuruh tiada henti membayangi pagi kami, beberapa di antara mereka memilih beristirahat sejenak dan asik bercerita di sela-sela lokasi kami terlelap. Kami terbangun dan langsung mulai membagi tugas dan menyiapkan diri.Setelah semuanya siap kami langsung bergegas menuju pos 5, sebagai target peristirahatan berikutnya.
Ketika sampai di pos 5, kami begitu takjub dengan pemandangan manusia yang hadir di sini, di sepanjang sisi jalan, penuh dengan kerumunan tenda dan pendaki yang asik menikmati pemandangan. Kami memutuskan beristirahat di antara keramaian pendaki, menyeduh kopi sambil ngemil biskuit menjadi menu nomor 1 kami ketika berstirahat.
Setelah puas beristirahat dan bercanda, tanpa menunda kami langsung berangkat menuju pos 8.
Sampai di pos 8, kami sekali lagi di buat geger dengan pemandangan ini, bukan lagi tumpukan manusia yang kami lihat, tapi tumpukan sampahpun menjadi pemandangan dari pos 8. Telaga bidadari yang kami kenal sebagai mata air terindah di gunung Bawakaraeng ini, terlihat begitu kotor dan tidak menarik lagi. Seharusnya para pendaki lebih sadar untuk tidak meninggalkan apapun selain pengalaman di dalam pendakian.
Informasi berhamburan, terdengar kicauan kabar tempa untuk camp di pos 10 telah penuh. Rasa gusar mulai melanda kami, memperhitungkan tenda yang kami bawa tidak memenuhi standar safety pendakian. Kami tidak habis akal dan kepercayaan, kami membagi tim menjadi 2 gelombang. Gelombang pertama di isi oleh Fathur dan Ical shoping, yang membawa beban lebih ringan dari anggota tim yang lain, dan bertugas untuk berjalan lebih cepat dan mengambil tempat camp terlebih dahulu. Sisanya yang terdaftar di gelombang 2 adalah teman-teman yang mulai merasa lelah dan membawa beban yang berat.
Ketika Maghrib, Dan lukisan awan mulai menghitam.Akhirnya, Saya, Fuad, Kochak, Ibnu, Danil item, dan kanda Ical yang mendapatkan posisi gelombang 2 sampai di tujuan, yaitu pos 10. Karena banyaknya camp dan pendaki yang berlalu lalang membuat kami begitu susah menemukan tempat camp yang sudah di tentukan oleh Fathur dan Ical shoping. Tidak terlalu lama mencari, kami langsung di sapa dan di jemput oleh teman-teman organisasi kami yang lain. Mereka berangkat 1 hari lebih cepat dari kami, panggil saja mereka Imam suyuti, Ocha, Hamzah, dkk. Mereka yang sudah bertemu dengan fathur dan ical shoping terlebih dahulu, langsung menggiring kami ke tempat camp kami berdiri.
Membersihkan diri, menyiapkan menu santap malam, serta membekali tubuh dengan pakaian siap tidur dalam suhu yang begitu rendah adalah langkah awal kami menyesuaiakan diri dengan keadaan di pos 10.
Setelah semua sudah di kerjakan, kami mulai berbaur dengan suasana sekitar,begitu juga ribuan pendaki yang hadir di sini. Berjalan-jalan kepuncak menjadi point of view yang paling tepat untuk menikmati cahaya bintang dari gunung bawakaraeng. Setelah puas menikmati momen malam yang begitu berbeda dari pendakian sebelumnya, kamipun terlelap untuk malam ke-2 kami di Bawakaraeng.
Pagi di sambut dengan sorak-sorak merdeka, para pendaki mulai bergegeas menumpuki lapangan upacara yang di sediakan, begitu bersemangat kamipun mengganti pakaian, cuci muka, dan langsung bergabung dengan keramaian.
Upacara di mulai, membuat setiap orang yang hadir merasa merinding menyaksikan sejarah pendakian bersama terbanyak di tanah sulawesi. Di ikuti oleh ribuan pendaki,berkumpul dan bernyanyi bersama lagu Indonesia raya. Terasa tanah ikut bergemetar menyaksikan semangat nasionalisme para pendaki yang hadir. Setelah pengibaran bendera terlaksanakan, di lanjut dengan kegiatan pembacaan pancasila, kode etik pencinta alam, dan pembacaan doa lalu lalu laporan upacara telah selesai. Setelah upacara selesai para pendaki berbondong-bondong berkumpul di tugu puncak untuk mengabadikan momen.
Sungguh pengalaman yang begitu hebat, momen yang tak akan terlupakan seumur hidup untuk setiap orang yang hadir menyaksikan upacara ini, Satu pesan singkat kepada indonesia "BAGMU NEGERI JIWA RAGA KAMI!!!!"
Terimakasih Tuhan,
Terimakasih Alam......
No comments:
Post a Comment