Nesia nafasnya terlalu sepi larut purnama kini
Tengkorak kepalanya begitu berbulu akan makna
Mutiaranya dangkal tertanam akan hitam dasar laut,ancaman akan hiu menanti
Terselimut sesal akan pijakan kelahirannya
Nesia dia bergetar begitu terang mengandung,dinding cina besar tak berpintu untuk dia lewati,secangkir noda telah merusak madu nesia,sayup dia nikmati gerhana semesta sambil matanya meneteskan darah.
Subuh tadi pohon tua tumbang panjang menanti pahlawan,angin hari ini hanya membawa debu,bualan awan hitam meneteskan cabang hujan,petir bermain di wajah langit,terlihat sang gagak riang menertawakan siang,dan nesia tetap menjadi sepotong roti tak berselai.
Nesia menyeret aroma amarah sambil terpincang-pincang langkahnya,dia terus mencerna gizi yang buruk untuk suhu pikirannya,sore itu nesia pulang tanpa merabah hangat dada surya yang begitu merindu.
Nesia begitu takut dan bersembunyi di sudut ruangnya,menduga-duga akan esok yang kelam,dia memainkan duka dengan terengah-engah,tak lama tuhannya datang dengan tongkat kuno musa,di tancapkannya di kemaluan nesia yang membuat nesia merintih,sikap berontaknya terbungkam,nesia pasrah dengan tubuh terjilad liar,dia terkuliti akan absurb angan tuhannya,esok harinya nesia terlihat bergaun anggun dengan air mata yang melunturkan dandanan tebalnya.
Nesia yang malam,catatan tubuhnya terbunuh...
Malang,16, April, 2014.
Muh. Afif Novaldy

No comments:
Post a Comment