Sabtu, 10 Oktober 2014
Hari itu hampir saja aku berpura-pura menjadi bahagia ditempat tinggal mereka. Kampung Savana, disinilah tepat mereka tinggal, kampung ini terletak di depan perumahan Citraland, Jl. Hertasning Baru dan dihuni 150 jiwa. Anak mereka tidak bersekolah, istri mereka hanya tinggal dirumah mengurus anak-anaknya dan suami mereka bekerja, bertahan hidup dengan cara memulung.
Aku dan teman-teman HMA PNUP melaksanakan kegiatan bakti sosial, kampung Savana adalah sasaran kegiatan kami. Sesaat setelah kami tiba, kami memarkir mobil yang tempatnya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka, berjalan kaki, meginjakkan kakiku dikampung mereka aku sedikit risih dengan sampah yang berserahkan, tanah yang seharusnya dipenuhi rumput, telah menjadi debu berterbangan dengan angin menyambut kedatangan kami. Aku melihat wajah mereka, mata mereka begitu bersinar melihat kedatangan kami. Mereka berkumpul menyambut kedatangan kami. Aku tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat disana aku hanya bertugas untuk mengambil gambar sesuai profesiku yang sedang kutekuni menjadi seorang Pers. Aku merasakannya dari tiap gambar yang ku tangkap melalui lensa kameraku hari itu. Aku mendekati seorang anak, wajahnya sangat senang melihatku, kuajak berkenalan, sedikit bercerita mengenai kehidupan sehari-harinya. Mereka tidak pernah meminta terlahir sebagai orang miskin..
Sebenarnya kampung ini sudah sering dikunjungi untuk kegiatan bakti sosial oleh kampus-kampus yang ada di Makassar, namun pemerintah belum pernah sekalipun datang berkunjung kekampung mereka. Anak-anak dulunya belajar 3kali dalam seminggu, namun sekarang ini mereka hanya belajar sekali dalam seminggu. Ibu-ibunya pun sudah dibekali untuk membuat kerajinan dari bahan-bahan yang ada disekitar mereka namun, mereka terhenti karena tidak ada yang memantau secara rutin kegiatan mereka.Sempat kulihat tempat mereka belajar, terbuat dari kayu seperti rumah panggung setengah jadi, atapnya hancur ditiup angin mereka namakan kelas darurat. Lapangan yang tandus menjadi tempat mereka bermain ada juga beberapa anak yang membantu bapaknya memulung, jangankan air minum, air biasapun rasanya asin. Untuk mendapatkan air bersih mereka harus membeli per jerigen dengan harga 500 rupiah.
Setidaknya kami telah berbagi kebahagiaan dengan mereka, membuat mereka merasa berbeda dengan hari-hari mereka yang kemarin walaupun hanya sehari. Aku menemukan bahwa bahagia itu adalah senyuman tulus dari orang-orang disekitar kita. Dibalik senyuman mereka, mereka khawatir akan kehidupan mereka esok hari. Orang miskin hanya memiliki kemarin dan hari ini.
Sembako dan pakaian telah kami berikan kepada pemangku adat kampung Savana, kegiatan kami akan berakhir namun apa yang telah kita lakukan hari itu, tidak akan bisa kita lupakan. Maknai dunia kecil mereka dengan uluran tangan tulusmu.
Terimakasih untuk kampung Savana, aku menemukan sebuah kebahagiaan yang tak bisa kujelaskan dibalik senyuman kalian.
Kata anak itu "Peace = Cinta Damai"
(Christine Angelica)

No comments:
Post a Comment