Kau memerah saat ku inginkan menguning
Inginku rindang inginmu gersang
Ku mohonkan badai kau menjadi langit cerah
Harapku basah kau terbakar hebat
Sebenarnya aku, kamu, kita ini siapa?
Kau Tuhan bagiku? atau aku adalah Tuhan yang tak sepaham denganmu?
Atau kita adalah Tuhan ganda yang saling mempengaruhi?
Kita berbentuk satu dengan dimensi pemahaman yang jauh berbeda
Kau menciptakan iklim sesukamu
Kau membentuk rasa kapan kau suka
Sedangkan aku tak memuja karya kontrasmu dengan ilmu logisku
Kau grogoti perilaku dalam caraku bersikap
Kau patahkan kepalaku dengan bentuk bahasamu
Kau lemparkan petir keika ku mencerna keadaan
Kau adalah benda egois!
Tak bisakah kita berlayar bersama?
Biarkan kita menetukan arah kapal bersama?
Kalau kau tak setuju jua, biarlah dirimu yang memimpin
Tolonglah, aku janji akan setia
Tapi seperti biasa kau bisu dengan caramu
Kau hidup dan bernafas sendiri tanpa bantuanku
Tapi kau tau, kau akan mati ketika aku menemukan ajal
Kata abadi bukan untukmu, ketika keabadian bukan untukku
Kau masih bangun ketika ku terlelap
Tapi aku tak bisa sebaliknya
Kau terlalu berpengaruh dalam detikku
Tetap sibuk dengan hariku, tak membiarkanku mandiri tumbuh dewasa dengan usiaki
Tapi satu sisi kau antomimkan ceritaku tentangmu
Kau selalu mengajakku berdiskusi ketika sahabat lain diam
Kau menjadi teman yang rame ketika sepi sunyi melanda
Kau lentera dalam ruang bimbang gulita
Mungkin dunia tak pernah tau tentang mesranya kita bercinta tak bersaksi
Yang saling gelisah mengartikan makna gelombang kehiudpan
Mungkin sahabat yang lain tak kenal kau adalah sahabat terdekatku
Yang dipanggil dengan nama hati
Malang, 01, April, 2014.
Muhammad Afif Novaldy Hattah

No comments:
Post a Comment